Sabtu 8 juni 2013
Pemateri. Ustadz Abu Qatadah
MENUJU KEBANGKITAN UMMAT
Sabtu 8 juni 2013
Pemateri. Ustadz Abu Qatadah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Hadist dari Abdullah ibnu Mas`ud, 5 perkara dosa besar dalam ummat
1. Merebaknya perzinahan, Allah akan menimpakan azab berupa penyakit yg blum ada obatnya / penyakit tersebut jenis baru blum penah ada pada zaman sebelumnya
2. Mengurangi Timbangan, Allah akan menurunkan/memunculkan para pemimpin pada masa itu pemimpin yg dzolim kepada rakyatnya. sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah/riba` (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu”. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud dan di shahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani].
3. Menahan zakat, Allah akan menunda turunnya hujan dan paceklik dimana-mana.
4. Melanggar syari`at Allah, mereka melanggar batasan dan hokum Allah dan Rasulnya, yg Haram dikatakan Mubah, yg Mubah di katakan Haram, yg sunnah di katakana Bid`ah, yg Bid`ah di katakana sunnah.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا
dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.
[Al-Ahzab : 36]
5. Tidak Berhukum dengan hukum Allah, dan tidaklah pemimpin yg tdk berhukum dengan hukum Allah melainkan Allah akan menimpakan rasa permusuhan dan saling membunuh di antara sesamanya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَوَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. [Al-maidah 5 :57-58]
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali `Imran :31]
Point diatas adalah sumber kemurkaan Allah azza wa jalla, adapun setiap muslim hendaknya mengilmui batasan mana hendaknya mereka bermuamalah agar mendatangkan keberkahan hidup di antaranya adalah firman Allah :
“Barangsiapa bertawa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” [At-Thalaq : 2]
” Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas jalan itu (agama Islam), banar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)” [Al-Jin : 16]
” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi” [Al-A’raf : 96]
Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan menjanjikan untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur, Allah berfirman.
“Artinya : Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmatKu atasmu” [Ibrahim : 7]
Karena itu, setiap orang yang menginginkan keleluasaan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkannya berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan kebaikan. [Tafsir Al-Qurthubi, 6/241]
Menolong Agama Allah Pada pokok yang utama
1. Mempelajarinya (Ta`alumu), karena ilmu hanya bisa di dapat dengan belajar dan pempelajarinya
Perhatikanlah perkataan Mujahid Rahimahullah. “Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu”. Seakan akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam mencari ilmu.
Dalam proses mencari ilmu tentu kita harus cenderung kepada landasan dasar yg kuat/pendapat dalil yg kuat (shahih), dan juga tdk penyepelekan bahkan mendebat dalil yg shahih yg datang pada kita, bisa barang tentu bukan ilmunya yg salah melainkan pola paham/logika/pikiran yg ada pada diri kita yg blum mampu menyerapnya…!, Imam Ath-Thahawi Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mencoba mempelajari lmu yang terlarang, tidak puas pemahamannya untuk pasrah (kepada al-Qur-an dan as-Sunnah), maka ilmu yang dipelajarinya itu akan menutup jalan baginya dari kemurnian tauhid, kejernihan ilmu pengetahuan dan keimanan yang benar.” [Lihat Syarah ‘Aqiidah Thahawiyyah, takhrij dan ta’liq oleh Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki (hal. 233).]
2. Mengamalkannya (Wa`amalihi), tentunya sesudah mempelajarinya seorang muslim itu harus juga bisa mengamalkannya berdasarkan ilmu yg dia pelajari dalam kehidupan kesehariannya.
3. Berda`wah /menda`wahkannya (Wad a`wa illallah), ini adalah tuntutan setelah Berilmu dan mengamalkannya adalah menda`wahkannya. “Sebaik-baik-nya kalian adalah yg mempelajari Al-qur`an dan mengajarkannya”.
Dan seorang yg akan berdakwah hendaknya berbekal dengan ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah disamping telah terdapat dalil-dalilnya dalam nash-nash syari’at juga akal yang sehat ikut membuktikan juga, karena bagaimana mungkin engkau berda’wah menyeru manusia kepada dien Allah sedangkan engkau tidak mengetahui jalan menujuNya,
10 Kaidah dalam Kebangkitan Islam
1. Membetulkan Niat yg isinya adalah ikhlas karena Allah semata. Al-Fudhail ibnu Iyyad Rahumahullah ” Sesungguhnya jika amal itu Ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. pengertian ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan memenuhi syarat menurut As-Sunnah/ ittiba`.”
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” [Al-Kahfi :110]
Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” [An-Nisa’ :125]
Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namum tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya’ dan orang yang shadq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.
Al-Fudhail bin iyyad berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.”
2. Punya Perhatian Dengan ilmu syar`i, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. “”…maka orang yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar haruslah memiliki ilmu tentang hal yang ma’ruf dan yang mungkar dan dapat membedakan antara keduanya dan harus memiliki ilmu tentang keadaan orang yang diperintah dan yang dilarang.
Dan yang dimaksudkan dengan ilmu adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah utuskan kepadanya dan dia adalah As Sulthan sebagaimana Allah berfirman :
“Yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka.”
[Ghafir : 35]
Barangsiapa yang berbicara tentang dien Islam ini bukan dengan apa yang telah Allah utuskan kepada RasulNya, maka ia berbicara tanpa ilmu dan barangsiapa yang dikuasai oleh syetan maka syetan pasti menyesatkannya dan menuntunnya menuju adzab jahannam yang menyala- nyala. Dan barangsiapa yang tunduk kepada dienullah maka ia telah beribadah kepada Allah dengan keyakinan.” [Majmu’Fatawa, juz 28 hal. 39. Dinukil dari buku Dhowabit All-Amri bil ma’rufi wan nahyi ‘anil mungkari inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah]
3. Membangun persaudaraan serta menjauhi bentuk-bentuk permusuhan
a). Persatuan diatas salafusshalih (orang-2 yg terdahulu yg shalih, seperti Rosulullah Shalallahu`alaihi wassalam dan para sahabatnya) karena ijma` (kesepakatan) yang telah tegak.
sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: Umat-umat akan mengelilingi kalian sebagaimana orang-orang yang makan (dengan lahap) mengelilingi piring-piringnya. Para sahabat bertanya: “Apakah karena sedikitnya kami pada saat itu, wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: “Tidak, bahkan kalian banyak (jumlahnya) pada saat itu, akan tetapi kalian adalah seperti buih banjir, dan Allah benar-benar akan mencabut kegentaran dari hati musuh kalian, dan Dia benar-benar akan menanamkan wahn ke dalam hati kalian. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”. Beliau menjawab: “Cinta dunia dan benci mati”. [Hadits Riwayat. Abu Dawud dari Ibnu Umar, Ahmad, Ath-Thabrani dalam al-Kabiir, Ibnu ‘Adi dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan hadits ini shahih]
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[*] jika kamu tidak mengetahui,”
[An nahl 43]
[*] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
b). Dalam membangun persatuan kita berlapang dada dalam mesalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) yg di perbolehkan (masing-masing mempunyai dalil /ijma` yg shahih dan di sepakati)
Seseorang yang berhubungan dengan manusia lainnya, mesti akan mengalami suatu gangguan, maka sepatutnya sikapnya dalam menghadapi gangguan ini adalah hendaknya memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa sikap pemaaf dan lapang dadanya dan harapannya untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat (dapat mengakibatkan) permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan. Allah berfirman :
“Artinya : Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” [Al Fushilat : 34]
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“. [An Nahl : 125].
Adapun syaikh bin baz ketika di Tanya tentang BOLEHKAH KITA TOLERANSI DAN KERJA SAMA DAKWAH DENGAN JAMA’AH-JAMA’AH ISLAM ?
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata : “Benar, kita wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dalam hal membela kebenaran, mendakwahkannya, dan memperingatkan umat dari apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, adapun jika sebagian dari kita toleransi dengan sebagian yang lainnya dari apa yang kita perselisihkan, maka ini tidaklah mutlak, bahkan ini butuh kepada perincian, jika hal itu merupakan masalah-masalah ijtihad yang tersembunyi dalilnya, maka yang wajib tidak boleh saling mengingkari pada masalah-masalah tersebut, adapun permasalahan-permasalahan yang menyelisihi nash Kitab dan Sunnah, maka yang wajib mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash dengan hikmah, mau’izoh hasanah, dan debat dengan cara yang baik.
“………Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. [Al-Maidah : 2]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar”. [At-Taubah : 71]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. ” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. [An-Nahl : 125]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman”. [Hadits Riwayat Muslim 49, Ahmad 3/10, Abu Dawud 1140, Tirmidzi 2172]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut”. [Hadits Riwayat Muslim 1893]
[Majmu Fatawa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 3/58-59]
4. Setiap individu muslim seharusnya menempuh jalan/wasilah untuk mencapai kebangkitan islam dan mempunyai keahlian-2 untuk mencapai tujuan tersebut
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun : 8]
Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan Allah.
Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang.
“Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki” [Ali–Imron : 26]
Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Alloh akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.
Wallahu a’lam.
[Demikian kajian di sabtu pagi di masjid At-Taqwa rawa lumbu, dan beberapa tambahan dari saya, mudah-mudahan bisa di mengerti dan bisa di ambil hikmah/pelajaran, Barakallahu fiiyk “Akhikum Fillah Fandhi Mahardika / Abufudhail”, selasa pukul 2.30 WIB]
