MENITI JALAN LURUS

Menetapi Langkah Salaful Ummah

(Ustadz. Ahmad Rofi’i. Lc)

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al-An’aam : 153)

Mengapa Mesti Jalan yang Lurus???

1.  Tidak ada manusia yang hidup abadi didunia ini.

Allah Robul’alamin berfirman :
Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (Al-mu’minun : 15-16)

2. Dunia tempat berusaha

Allah Rabul’alamin berfirman :
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. ( As-syuro : 20 )

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Manhaj

DOA BERBUKA PUASA DAN HADIST – HADIST BERKAITAN

Penulis : Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafidhahullah

 

Doa Ketika Berbuka Bagi Orang Yang Berpuasa
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahala, Insya Allah.”

Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shalallahu`alaihi wassalam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :
DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Insya`Allah).
 [Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239]

Al-Albani menyetujui apa yang dikatakn Daruquhni.!

Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berkata : Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.

DIBAWAH INI ADA DUA HADIS YANG SELALU DIBACA KETIKA BERBUKA PUASA, TETAPI HADIS TERSEBUT LEMAH :-

HADIS PERTAMA:-

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui)”.[Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir]

Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif 

 

Pertama : Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.

 

1. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if

2. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)

3. Kata Imam Ibnu Hibban : pemalsu hadits

4. Kata Imam Dzahabi : di dituduh pemalsu hadits

5. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)

6. Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.

 

 

Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.

 

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al- Albani, dll.

 

Periksalah kitab-kitab berikut :

 

1. Mizanul I’tidal 2/666

2. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami

3. Zaadul Ma’ad di kitab Shiam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim

4. Irwaul Gholil 4/36-39 oleh Muhaddist Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

HADIS KEDUA :-

Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka)”. [Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shagir hal 189 dan Mu’jam Awshath]

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if 

Pertama : Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.

  • Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
  • Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
  • Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
  • Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

 

Kedua : Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.

  • Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
  • Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
  • Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
  • Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadits ini

 

Hadist Ke Tiga

 

“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shalallhu`alaihi wassalam. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ‘Alaa Rizqika Aftartu.”

 

(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

 

Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

 

Pertama : “MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shalallahu`alaihi wassalam. (hadits Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shalallahu`alaihi wassalam, tanpa perantara shahabat).

 

Kedua : “Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.

 

 

KESIMPULAN

 

* Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh lagi diamalkan.

 

* Sedangkan hadits yang Berbunyi “DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH” riwayatnya telah syah maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja).

Wallahua`lam

“Akhukum Fillah” Fandhi Mahardika
do`a berbuka puasa

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

MENUJU KEBANGKITAN UMMAT

Sabtu 8 juni 2013

Pemateri. Ustadz Abu Qatadah

MENUJU KEBANGKITAN UMMAT

Sabtu 8 juni 2013

Pemateri. Ustadz Abu Qatadah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadist dari Abdullah ibnu Mas`ud, 5 perkara dosa besar dalam ummat

1. Merebaknya perzinahan, Allah akan menimpakan azab berupa penyakit yg blum ada obatnya / penyakit tersebut jenis baru blum penah ada pada zaman sebelumnya

2. Mengurangi Timbangan, Allah akan menurunkan/memunculkan para pemimpin pada masa itu pemimpin yg dzolim kepada rakyatnya. sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah/riba` (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu”. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud dan di shahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani].

3. Menahan zakat, Allah akan menunda turunnya hujan dan paceklik dimana-mana.

4. Melanggar syari`at Allah, mereka melanggar batasan dan hokum Allah dan Rasulnya, yg Haram dikatakan Mubah, yg Mubah di katakan Haram, yg sunnah di katakana Bid`ah, yg Bid`ah di katakana sunnah.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.

[Al-Ahzab : 36]

5. Tidak Berhukum dengan hukum Allah, dan tidaklah pemimpin yg tdk berhukum dengan hukum Allah melainkan Allah akan menimpakan rasa permusuhan dan saling membunuh di antara sesamanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَوَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. [Al-maidah 5 :57-58]

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali `Imran :31]

Point diatas adalah sumber kemurkaan Allah azza wa jalla, adapun setiap muslim hendaknya mengilmui batasan mana hendaknya mereka bermuamalah agar mendatangkan keberkahan hidup di antaranya adalah firman Allah :

“Barangsiapa bertawa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” [At-Thalaq : 2]

” Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas jalan itu (agama Islam), banar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)” [Al-Jin : 16]

” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi” [Al-A’raf : 96]

 

Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan menjanjikan untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur, Allah berfirman.

“Artinya : Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmatKu atasmu” [Ibrahim : 7]

Karena itu, setiap orang yang menginginkan keleluasaan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkannya berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan kebaikan. [Tafsir Al-Qurthubi, 6/241]

                                         Menolong Agama Allah Pada pokok yang utama

1. Mempelajarinya (Ta`alumu), karena ilmu hanya bisa di dapat dengan belajar dan pempelajarinya

Perhatikanlah perkataan Mujahid Rahimahullah. “Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu”. Seakan akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam mencari ilmu.

Dalam proses mencari ilmu tentu kita harus cenderung kepada landasan dasar yg kuat/pendapat dalil yg kuat (shahih), dan juga tdk penyepelekan bahkan mendebat dalil yg shahih yg datang pada kita, bisa barang tentu bukan ilmunya yg salah melainkan pola paham/logika/pikiran yg ada pada diri kita yg blum mampu menyerapnya…!,  Imam Ath-Thahawi Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mencoba mempelajari lmu yang terlarang, tidak puas pemahamannya untuk pasrah (kepada al-Qur-an dan as-Sunnah), maka ilmu yang dipelajarinya itu akan menutup jalan baginya dari kemurnian tauhid, kejernihan ilmu pengetahuan dan keimanan yang benar.” [Lihat Syarah ‘Aqiidah Thahawiyyah, takhrij dan ta’liq oleh Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki (hal. 233).]

2. Mengamalkannya (Wa`amalihi), tentunya sesudah mempelajarinya seorang muslim itu harus juga bisa mengamalkannya berdasarkan ilmu yg dia pelajari dalam kehidupan kesehariannya.

3. Berda`wah /menda`wahkannya (Wad a`wa illallah), ini adalah tuntutan setelah Berilmu dan mengamalkannya adalah menda`wahkannya. “Sebaik-baik-nya kalian adalah yg mempelajari Al-qur`an dan mengajarkannya”.

 

Dan seorang yg akan berdakwah hendaknya berbekal dengan ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah disamping telah terdapat dalil-dalilnya dalam nash-nash syari’at juga akal yang sehat ikut membuktikan juga, karena bagaimana mungkin engkau berda’wah menyeru manusia kepada dien Allah sedangkan engkau tidak mengetahui jalan menujuNya,

                                        10 Kaidah dalam Kebangkitan Islam

1. Membetulkan Niat yg isinya adalah ikhlas karena Allah semata. Al-Fudhail ibnu Iyyad Rahumahullah ” Sesungguhnya jika amal itu Ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. pengertian ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan memenuhi syarat menurut As-Sunnah/ ittiba`.”

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” [Al-Kahfi :110]

Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” [An-Nisa’ :125]

 

Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namum tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya’ dan orang yang shadq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.

Al-Fudhail bin iyyad berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.”

2. Punya Perhatian Dengan ilmu syar`i,  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. “”…maka orang yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar haruslah memiliki ilmu tentang hal yang ma’ruf dan yang mungkar dan dapat membedakan antara keduanya dan harus memiliki ilmu tentang keadaan orang yang diperintah dan yang dilarang.

 

Dan yang dimaksudkan dengan ilmu adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah utuskan kepadanya dan dia adalah As Sulthan sebagaimana Allah berfirman :

“Yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka.”

[Ghafir : 35]

Barangsiapa yang berbicara tentang dien Islam ini bukan dengan apa yang telah Allah utuskan kepada RasulNya, maka ia berbicara tanpa ilmu dan barangsiapa yang dikuasai oleh syetan maka syetan pasti menyesatkannya dan menuntunnya menuju adzab jahannam yang menyala- nyala. Dan barangsiapa yang tunduk kepada dienullah maka ia telah beribadah kepada Allah dengan keyakinan.” [Majmu’Fatawa, juz 28 hal. 39. Dinukil dari buku Dhowabit All-Amri bil ma’rufi wan nahyi ‘anil mungkari inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah]

 

3.  Membangun persaudaraan serta menjauhi bentuk-bentuk permusuhan

 

a). Persatuan diatas salafusshalih (orang-2 yg terdahulu yg shalih, seperti Rosulullah Shalallahu`alaihi wassalam dan para sahabatnya) karena ijma` (kesepakatan) yang telah tegak.

 

sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: Umat-umat akan mengelilingi kalian sebagaimana orang-orang yang makan (dengan lahap) mengelilingi piring-piringnya. Para sahabat bertanya: “Apakah karena sedikitnya kami pada saat itu, wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: “Tidak, bahkan kalian banyak (jumlahnya) pada saat itu, akan tetapi kalian adalah seperti buih banjir, dan Allah benar-benar akan mencabut kegentaran dari hati musuh kalian, dan Dia benar-benar akan menanamkan wahn ke dalam hati kalian. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”. Beliau menjawab: “Cinta dunia dan benci mati”. [Hadits Riwayat. Abu Dawud dari Ibnu Umar, Ahmad, Ath-Thabrani dalam al-Kabiir, Ibnu ‘Adi dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan hadits ini shahih]

 

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[*] jika kamu tidak mengetahui,”

[An nahl 43]

[*] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.

 

b). Dalam membangun persatuan kita berlapang dada dalam mesalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) yg di perbolehkan (masing-masing mempunyai dalil /ijma` yg shahih dan di sepakati)

 

Seseorang yang berhubungan dengan manusia lainnya, mesti akan mengalami suatu gangguan, maka sepatutnya sikapnya dalam menghadapi gangguan ini adalah hendaknya memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa sikap pemaaf dan lapang dadanya dan harapannya untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat (dapat mengakibatkan) permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan. Allah berfirman :

“Artinya : Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” [Al Fushilat : 34]

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“. [An Nahl : 125].

Adapun syaikh bin baz ketika di Tanya tentang BOLEHKAH KITA TOLERANSI DAN KERJA SAMA DAKWAH DENGAN JAMA’AH-JAMA’AH ISLAM ?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata : “Benar, kita wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dalam hal membela kebenaran, mendakwahkannya, dan memperingatkan umat dari apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, adapun jika sebagian dari kita toleransi dengan sebagian yang lainnya dari apa yang kita perselisihkan, maka ini tidaklah mutlak, bahkan ini butuh kepada perincian, jika hal itu merupakan masalah-masalah ijtihad yang tersembunyi dalilnya, maka yang wajib tidak boleh saling mengingkari pada masalah-masalah tersebut, adapun permasalahan-permasalahan yang menyelisihi nash Kitab dan Sunnah, maka yang wajib mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash dengan hikmah, mau’izoh hasanah, dan debat dengan cara yang baik.

“………Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. [Al-Maidah : 2]

 

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar”. [At-Taubah : 71]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. ” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. [An-Nahl : 125]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman”. [Hadits Riwayat Muslim 49, Ahmad 3/10, Abu Dawud 1140, Tirmidzi 2172]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut”. [Hadits Riwayat Muslim 1893]

 

[Majmu Fatawa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 3/58-59]

 

 

4.  Setiap individu muslim seharusnya menempuh jalan/wasilah untuk mencapai kebangkitan islam dan mempunyai keahlian-2 untuk mencapai tujuan tersebut

 

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun : 8]

Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan,  kecuali bersama dengan Allah.

 

Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang.

“Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki” [Ali–Imron : 26]

Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Alloh akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.

Wallahu a’lam.

[Demikian kajian di sabtu pagi di masjid At-Taqwa rawa lumbu, dan beberapa tambahan dari saya, mudah-mudahan bisa di mengerti dan bisa di ambil hikmah/pelajaran, Barakallahu fiiyk “Akhikum Fillah Fandhi Mahardika / Abufudhail”, selasa pukul 2.30 WIB]

Gambar

Tinggalkan komentar

26 Juni 2013 · 5:23 am

Tabligh Akbar, Ustadz Abu Zubair

tabliq menjadi penolong Agama Allah

Bismillah, Hadirilah…..!!!

Tabligh Akbar, untuk umum
Dengan Tema : Menjadi Penolong Agama Allah

Pemateri          : Ustadz. Abu Zubair

Hari, Tanggal : Sabtu, 2 Rajab 1434 H/08 Juni 2013 M

Waktu              : 09.00 s/d Dzuhur

Tempat           : Masjid Raya At-Taqwa Jemb

atan 11 Perum. Bumi Bekasi Baru Rawa Lumbu – Bekasi

Contact Person : Muslimin 021-33532009,081298221010

Muslimat 08151890810

Baarakallaahu fiikum

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

MEMAKSIMALKAN IBADAH DI BULAN YANG PENUH BERKAH

Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.

Tidak terasa bulan yang kita nanti-nanti datang juga. Bulan yang kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadhan, itulah nama bulan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

Bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan.

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diutus pada bulan Ramadhan.

3. Pada bulan Ramadhan setan-setan akan dibelenggu, seluruh pintu-pintu neraka ditutup dan seluruh pintu-pintu surga dibuka oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

4. Beramal di bulan Ramadhan bisa menghapuskan dosa-dosa antara Ramadhan yang lalu dengan Ramadhan yang sekarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر)).

Artinya: “Shalat lima waktu, Jum’at yang satu dengan Jum’at yang lainnya dan Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya dapat menghapuskan dosa di antara (waktu-waktu) tersebut jika menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Dan masih banyak sekali keutamaan-keutamaan bulan yang penuh berkah ini.

Berkaitan dengan bulan Ramadhan, Malaikat Jibril ‘alaihissalam pernah berdoa agar orang yang mendapatkan bulan Ramadhan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni maka dia akan mendapatkan kerugian dan kehinaan yang besar. Hal tersebut ternyata diaminkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ: (( آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ))، فَقِيلَ لَهُ : (( يَا رَسُولَ اللَّهِ ! مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ )) فَقَالَ : (( قَالَ لِي جِبْرِيلُ : أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ …إلخ )).

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar seraya berkata, “Amin! Amin! Amin!” Setelah itu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditanya, “Apa yang tadi engkau lakukan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Jibril berkata kepadaku, ‘Mudah-mudahan Allah menghinakan seorang hamba yang telah memasuki Ramadhan tetapi dia tidak diampuni.’ Aku pun mengatakan, ‘Amin.’…” (HR. Ibnu Khuzaimah di Shahih-nya, Ibnu Hibban di Shahih-nya dan yang lainnya. Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang merugi dan dihinakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Amin. Oleh karena itu, penting sekali penulis mengingatkan diri penulis dan pembaca agar dapat memanfaatkan bulan Ramadhan ini semaksimal mungkin.

Untuk memaksimalkan ibadah kita di bulan ini banyak sekali amalan-amalan yang dapat kita lakukan. Akan tetapi, sebelum penulis menyebutkan semua amalan tersebut, sebaiknya kita mengetahui dua syarat suatu amalan akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dua syarat tersebut adalah:

1. Ikhlas dan lawannya adalah syirik

Seluruh amalan kita harus hanya diserahkan kepada Allah dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya . Termasuk bentuk syirik adalah riya’ (pamer dan ingin dipuji).

2. Mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mengadakan hal yang baru di dalam agama.

Berikut ini adalah amalan-amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan beserta sedikit penjelasannya:

1. Shaum/Shiyam/Puasa

Shaum Ramadhan hukumnya wajib dikerjakan oleh semua kaum muslimin dan muslimat yang baligh dan berakal terkecuali orang-orang yang memiliki ‘udzur, seperti: sakit, safar (perjalanan jauh), haidh, nifas dll. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Shaum/puasa memiliki banyak keutamaan, di antaranya disebutkan pada hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ.))

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai Rabb-ku! Saya telah menghalanginya dari makanan dan (memenuhi) syahwatnya di siang hari. Berilah saya izin untuk memberi syafaat untuknya. Al-Qur’an pun berkata, ‘Saya telah menghalanginya untuk tidur di malam hari. Berilah saya izin untuk memberi syafaat untuknya.’ Akhirnya mereka pun dapat memberikan syafaat.” (HR. Ahmad di Musnad-nya, Al-Hakim di Al-Mustadrak, Al-Baihaqi di Syu’abul-Iman dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di Misykatul-Mashabih)

Agar puasa kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

a. Hendaknya bersahur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً ))

Artinya: “Bersahurlah kalian sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

b. Hendaknya mengakhirkan sahurnya sampai dekat waktu subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengakhirkan sahurnya, sehingga jarak antara waktu sahur dengan shalat adalah sepanjang bacaan lima puluh ayat (sekitar sepuluh menit). Banyak orang yang melalaikan hal ini. Bahkan sebagian masyarakat di suatu daerah tidak lagi bersahur karena sudah menjadi adat-kebiasaan mereka. Padahal sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan puasa umat-umat sebelum kita.

c. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersahur dengan tamr (kurma). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
(( نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ ))

Artinya: “Hidangan sahur yang paling baik adalah kurma.” (HR. Abu Dawud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Abi Dawud)

d. Tidak perlu melafazkan niat ketika bersahur. Karena niat tempatnya adalah di hati.

e. Ketika siang hari di bulan Ramadhan, selain mengerjakan hal-hal yang wajib dan menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, hendaknya memperbanyak amalan-amalan sunnah dan meninggalkan hal-hal yang dimakruhkan apalagi yang diharamkan.

f. Hendaknya memperbanyak berdoa ketika berpuasa. Karena ini termasuk waktu yang mustajab (dikabulkan).

g. Ketika hampir masuk waktu Maghrib, hendaknya benar-benar telah mempersiapkan diri untuk berbuka, sehingga mendapat keutamaan berbuka di awal waktu dan tidak mengakhirkannya.

h. Ketika berbuka hendaknya berdoa dengan doa berikut:
(( ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ))

Artinya: “Dahaga telah pergi. Kerongkongan telah basah. Pahala telah ditetapkan. Insya Allah.” (HR. Abu Dawud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Abi Dawud)

i. Di-sunnah-kan berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, maka digantikan dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada, maka cukup digantikan dengan air.

j. Jika berbuka di tempat orang lain hendaknya membaca doa:
(( أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ.))

Artinya: Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian. Orang-orang bertakwa telah memakan makanan kalian. Dan para Malaikat berdoa untuk kalian. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Ibni Majah)

k. Di-sunnah-kan juga menyediakan makanan pembuka puasa untuk orang-orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرُهُ ، إِنَّهُ لاَ يَنْتَقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ ))

Barang siapa yang memberi makanan pembuka orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Ibni Majah)

Inilah beberapa hal yang hendaknya kita lakukan ketika kita bersahur, berpuasa dan berbuka.

2. Shalat Tarawih/Qiyam Ramadhan

Setelah Isya’ sampai waktu Subuh di-sunnah-kan mengerjakan shalat Tarawih. Jumhur ulama memandang bahwa shalat Tarawih di-sunnah-kan secara berjamah. Inilah yang dikerjakan dari masa ke masa. Sebenarnya waktu yang paling afdhal untuk mengerjakannya adalah di sepertiga malam yang terakhir. Hal ini banyak orang yang melupakannya. Akan tetapi, jika merasa berat untuk mengerjakannya, maka bisa dikerjakan langsung setelah shalat Isya’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.))

Artinya: “Barang siapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan ganjarannya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.“ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hendaknya kita tidak mempermasalahkan jumlah rakaat yang dikerjakan di tiap-tiap masjid. Dan hendaknya kita bisa berlapang dada dalam menerima perbedaan tersebut.

3. ‘Umrah

Untuk orang-orang yang diberi harta lebih, maka sebaiknya mengisi Ramadhan dengan berumrah ke Mekkah. Pahala umrah di bulan Ramadhan sangatlah besar dan sama seperti pahala orang yang mengerjakan haji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً. ))

Artinya: “Umrah di bulan Ramadhan seperti haji.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Ibni Majah)

4. Mencari Lailatul-qadr

Laitul-Qadr adalah satu malam di bulan Ramadhan yang pada malam itu para malaikat turun. Lailatul-Qadr tidak diketahui kapan akan terjadi di tiap tahunnya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa malam itu terdapat di antara sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada malam itu seluruh bentuk amalan akan dinilai lebih baik dari amalan-amalan seribu bulan. Waktu yang sedikit tetapi dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ini berlaku untuk semua orang. Oleh karena itu, para salaf (orang terdahulu) mengisi malam-malam di akhir Ramadhan dengan beribadah dan tidak tidur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan menghidupkan malam lailatul-qadr:
(( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِ ))

Artinya: “Barang siapa yang mendirikan (ibadah) di malam lailatul-qadr karena keimanan dan mengharapkan ganjarannya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari)

Sebagian kaum muslimin salah dalam memahami lailatul-qadr ini, sebagian memandang bahwa pada malam itu akan diturunkan cahaya untuk satu orang yang dipilih oleh Allah, sehingga pada kemudian harinya dia menjadi orang memiliki banyak kesaktian/keanehan.

Pemahaman seperti itu salah dan harus diluruskan.

5. I’tikaf

I’tikaf adalah tinggal di dalam masjid dan tidak keluar darinya sampai waktu tertentu dengan niat ibadah kepada Allah. Dengan ber-i’tikaf kita tidak hanya bisa mencari lailatul-qadr, memfokuskan diri untuk beribadah dan meninggalkan urusan-urusan dunia, tetapi kita juga bisa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunnah i’tikaf ini banyak ditinggalkan oleh mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia. Padahal para khatib Jum’at dan para penceramah setiap tahunnya menyebutkan keutamaannya. Seharusnya para pemuka agama tidak hanya dapat berbicara di atas mimbar, tetapi juga harus menunjukkan peraktek langsungnya di masyarakat. Jika para pemuka agama beri’tikaf, insya Allah orang-orang yang lain juga akan mengikutinya. Sebaiknya seluruh instansi dan perusahaan yang ada di masyarakat kita meliburkan kegiatannya pada hari-hari ini dan menganjurkan kepada seluruh pegawainya untuk ber-i’tikaf.

Orang yang sudah biasa mengerjakan amalan ini insya Allah akan merasa ada yang kurang jika dia mendapatkan bulan Ramadhan tetapi belum beri’tikaf. Apakah Anda ingin menjadi salah satunya?

6. Banyak membaca dan mempelajari Al-Qur’an

Bulan ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk meluangkan waktu membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an, maka sebaiknya segera mempelajarinya. Bagi yang bisa membaca, diusahakan untuk menkhatamkan Al-Qur’an. Bagi yang sudah lancar, diusahakan untuk mengkhatamkan beberapa kali dalam satu bulan. Jika telah bisa mengkhatamkan dua kali, diusahakan untuk mengkhatamkan tiga kali, kemudian empat kali, kemudian lima kali dan seterusnya.

Selain membaca diusahakan juga untuk memahami kandungan makna Al-Qur’an, baik dengan membaca terjemahan Al-Qur’an atau buku tafsir.

7. Memperbanyak seluruh amalan kebajikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di bulan Ramadhan sangatlah baik. Kebaikan beliau pada bulan ini lebih baik daripada kebaikan-kebaikannya di bulan yang lain. Beliau sangat mudah berinfak dan membantu orang lain pada bulan ini sebagaimana dijelaskan oleh pada hadits Ibnu ‘Abbas. Sampai-sampai Ibnu Abbas membuat permisalan ‘Kebaikan beliau lebih cepat dari pada angin (hujan) yang bertiup kencang’. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah beberapa hal yang bisa penulis sampaikan. Mudah-mudahan kita bisa memaksimalkan ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Dan mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang diampuni dosa-dosanya. Amin.

Tamma bi fadhlillahi wa karamihi. Mudahan bermanfaat.

Daftar Pustaka

1. Hadyun-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Ramadhan. Sami bin Muhammad.

2. Istiqbalul-Muslimin li Ramadhan. ‘Athiyah Muhammad Salim.

3. Ramadhan Kaifa Nastaqbiluhu wa Kaifa Naghtanimuhu?. As-Sayyid Al-Arabi bin Kamal.

4. Taujihat Ramadhaniyah. Ibnu Abdillah Az-Zuhairi.

5. Buku-buku lain yang telah disebutkan di makalah ini.

(Artikel Majalah Lentera Qolbu edisi Ramadhan tahun I)
http://kajiansaid.wordpress.com/2011/07/24/memaksimalkan-ibadah-di-bulan-yang-penuh-berkah/

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Kedudukan dan Penjelasan Hadits “Perselisihan Umatku adalah Rahmat

Penulis Al Ustadz Abu Abdurrahman Abdul Aziz As Salafy

إختلاف أمتي رحمة

Perselisihan dan kontradiksi pendapat yang mewarnai umat ini, seakan sudah menjadi perkara yang dianggap lumrah. Slogan-slogan dari sebagian orang yang mengatakan : “Perselisihan itu adalah rahmat, jadi diantara kita harus memiliki rasa toleransi”, atau “Kita saling tolong-menolong pada hal-hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi pada hal-hal yang kita perselisihkan” pun turut menghiasi, seakan menyetujui perselisihan yang kian larut ini.

Sekilas slogan-slogan tersebut memberi kesejukan dan ketenangan jiwa manusia. Dengan dalih “… walaupun berselisih atau berbeda pemahaman, yang penting ukhuwah (persaudaraan) tetap terjalin.” Walhasil ketika bermuamalah, mereka berusaha untuk tidak menyentuh perkara yang diperselisihkan demi menjaga keutuhan ukhuwah. Sekalipun perkara tersebut adalah sesuatu yang prinsip (jelas) hukumnya dalam agama. Sehingga amar ma’ruf nahi munkar sulit dijalankan, karena adanya rambu-rambu toleransi ala mereka.
Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized